Translate

CARA MENJADI AGEN PULSA

Selamat datang di - khlis.blogspot - Hanya dengan Memiliki Satu HP dan Tanpa merubah Nomor Handphone anda,anda bisa berbisnis, atau pun Uang Tambahan bulanan anda.

Untuk Mendaftar Bisa anda klik aja di pulsamilyarder atau mengisi Kontak di bawah.

lovekhlis

Kontak Saya


Name
Your Email Address
Subject
Message
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Powered byEMF PHP Form

Chicklet

Search

Memuat...

Senin, 20 Desember 2010

Sempurnanya Iman Seorang Muslim

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Sunday, 19 December 2010
Sempurnanya Iman Seorang Muslim
Senin, 13 Desember 2010



قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

(صحيح البخاري)

“ Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia. ” ( Shahih Al Bukhari )
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ .

Limpahan puji kehadirat Allah Yang Maha Luhur, Yang Maha Menguasai kerajaan langit dan bumi, Yang Maha melimpahkan rahmat-Nya yang kekal dan Maha Melimpahkan kasih sayang-Nya disetiap waktu tiada henti yang berupa rahmat-Nya yang sementara untuk mereka yang beriman dan yang tidak beriman, dan rahmat itu terus berlimpah di setiap detiknya. Namun Allah menyiapkan rahmat yang kekal untuk mereka yang mengikuti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mungkin sebagian orang akan berkata : “ kenapa, Muhammad lagi, rasulullah lagi dibahas?! ”, mengapa?, karena beliau adalah utusan Allah, maka kenali kasih sayang Allah dengan mengenali utusan-Nya yang telah mengenalkan Allah, dialah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Cintailah beliau, karena dengan mencintainya sempurnalah iman kita. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ ، وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

( المائدة : 55 – 56 )

“ Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka banyak melakukan shalat sunnah tunduk (kepada Allah), Dan barangsiapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pasukan Allah itulah yang pasti menang.” ( QS. Al Maidah : 55 – 56 )

Sungguh yang menjadi pelindung kita dan mengayomi kita adalah Allah subhanahu wata’ala, dan Rasul-Nya yang melindungi kita dengan doa, dengan syafaah yang agung, dengan tuntunan luhur, dan juga orang-orang yang beriman yang senantiasa mengerjakan shalat, menunaikan zakat, merekalah para shalihin yang juga menjadi pelindung kalian. Bukan berarti Rasulullah dan para shalihin mempunyai kekuatan yang sama dengan Allah, bukan pula tuhan kesatu, kedua atau ketiga, namun maksudnya adalah bahwa Allah mewakilkan rahasia bimbingan keselamatan yang milik Allah kepada Rasul-Nya dan para shalihin yang menuntun manusia kepada ridha Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, hadits yang tadi kita baca :

لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

( صحيح البخاري )

“ Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia. ” ( Shahih Al Bukhari )

Secara konteks kalimatnya makna hadits ini adalah “Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”, namun yang dimaksud adalah bahwa sempurnanya iman seseorang ialah jika ia telah mencintai Rasulullah lebih dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia. Dalam riwayat Shahih Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَيُؤْمِنُ الْعَبْدُ حتَّى اَكُوْنَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ اَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

“ Tidak sempurna iman seorang hamba sampai aku lebih ia cintai dari keluarganya, hartanya dan seluruh manusia. ”

Mengapa Rasulullah mengatakan demikian!?, hal ini adalah bentuk kasih sayang sang nabi, bukanlah kekerasan atau yang lainnya. Sebagaimana iman ada beberapa tingkatan maka nabi menginginkan ummatnya mencapai puncak keimanan dengan mencintai beliau saw, karena dengan mencintai beliau saw seseorang akan dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

اَحِبُّوا الله لِمَا يَغْدُوْكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ وَاَحِبُّوْنِى لِحُبِّ اللهِ وَاَحِبُّوا اَهْلَ بَيْتِى لِحُبِّيْ

“ Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada kalian, dan cintailah aku karena kecintaan (kamu) kepada Allah, serta cintailah ahlu al-baitku karena kecintaan (kamu) kepadaku ”

Orang yang cinta kepada Allah maka ia akan mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan tidak ada yang melebihi kemuliaan para ahlu Badr RA diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa mereka (ahlu Badr) adalah semulia-mulia muslimin. Mereka adalah ahlu bait Rasulullah, para sahabat rasulullah dari kaum Muhajirin dan Anshar, dari kaum quraisy, dari golongan bangsa arab dan juga bukan dari bangsa arab, orang-orang kaya dan miskin, para budak dan orang-orang merdeka kesemuanya bersatu dalam satu panji “Laa ilaaha illallah Muhammadun rasulullah”, untuk membela sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dikatakan orang-orang yang paling utama dari kaum muslimin. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika malaikat Jibril as bertanya kepada Rasulullah : “wahai rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang Ahlul Badr?”, maka Rasulullah menjawab : “ mereka adalah semulia-mulianya muslimin”, maka malaikat Jibril as berkata: “Begitu pula para malaikat yang diperintah untuk bersama Ahlul Badr mereka juga semulia-mulia malaikat”, kesimpulannya adalah mereka yang bersama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman :

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ، وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

( الأنفال : 32- 33 )

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih, Dan Allah sekali-kali tidak akan mengajak mereka, sedang kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengajak mereka, sedang mereka meminta ampun.” ( QS. Al Anfal : 32 – 33 )

Allah tidak akan menimpakan siksa kepada mereka yang membangkang dan tidak beriman kepada Allah selama diantara mereka ada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena masih ada orang yang paling dicintai Allah maka mereka yang dimurkai Allah selamat dari adzab Allah. Namun Allah Maha bijaksana maka kemuliaan itu diwariskan kepada ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga Allah tidak akan menyiksa mereka selama masih ada diantara mereka yang beristighfar, selaras dengan makna firman Allah dalam surat Al Fath :

وَلَوْلَا رِجَالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُؤْمِنَاتٌ لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ لَوْ تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

( الفتح : 25 )

“Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu'min dan perempuan-perempuan yang mu'min yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu . Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.” ( QS. Al Fath : 25 )

Jika bukan karena orang-orang yang beriman dan jika mereka tidak ada maka akan turun siksaan untuk semua mereka yang kufur kepada Allah. Ayat ini turun untuk penduduk Makkah sesudah Rasulullah hijrah, dimana sebagian kaum muslimin yang lemah dilarang oleh kuffar quraisy untuk hijrah, sebagian dari mereka rumahnya dikunci, ada yang dipasung atau diikat dan dijaga dengan penjagaan yang sangat ketat sehingga mereka tidak bisa berangkat ke Madinah Al Munawwarah, namun mereka orang-orang kafir Qureisy tidak mengetahui bahwa sesunguhnya keberadaan orang-orang yang beriman itulah yang menjadikan mereka selamat dari murka Allah, jika di Makkah tidak ada lagi yang beriman atau orang-orang yang beriman telah dibinasakan atau mereka keluar dari Makkah maka Allah akan menumpahkan bala’ pada penduduk Makkah. Namun kuffar quraisy tidak mengetahui kemulian mereka (para mu’minin) sehingga mereka terus ditindas. Maka keberadaan para shalihin menjadi benteng bagi yang lainnya. Dan malam ini dilaporkan telah hadir lebih dari 50.000 muslimin muslimat, bahkan bukan hanya di temapt ini saja, karena acara ini disiarkan secara langsung di streaming : www.majelisrasullah.org/ sehingga penduduk diseluruh dunia bisa menyaksikannya diantaranya di Denpasar, Bandung, Singapura, Malaysia dan wilayah-wilayah lainnya di seluruh barat dan timur. Dan sebagian dari mereka ada yang mengambil dari website ini kemudian disiarkan kembali di radionya masing-masing. Al Imam Ibn Batthal Ar berkata di dalam syarh kitab Muwattha’ Al Imam Malik tentang penjelasan hadits tadi, bahwa maksud hadits itu adalah ketika seseorang mencapai kesempurnaan iman maka ia akan diberi kefahaman oleh Allah subhanahu wata’ala bahwa hak dirinya dan keluarganya lebih patut dikesampingkan dari hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pendapat ini sejalan dengan perkataan hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany yang menukil ucapan Al Imam Nawawy rahimahullah, yang menukil ucapan hujjatul islam Al Imam Qadhi ‘Iyadh rahimahullah yang mengatakan bahwa awal dari cinta kepada rasulullah adalah bermula dari kesempurnaan iman, sehingga seseorang ingin hidup di zaman rasulullah, ingin melihat wajah rasulullah, kemudian ia mulai berfikir untuk lebih lagi menganut rasulullah dalam perbuatan bathin dan zhahirnya, lalu ia mulai berfikir lagi untuk mengorbankan apa yang ada pada dirinya demi cintanya kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana para shahabat mengorbankan nyawanya, keluarganya dan hartanya demi nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal seperti ini bukanlah kultus dalam syirik namun justru itu merupakan kesempurnaan iman seseorang, demikian makna hadits riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim. Dan kedua hadits ini didukung dengan firman Allah subhanahu wata’ala :

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

(الأحزاب : 6 )

“ Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mu'min dari diri mereka sendiri ,dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mu'min dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama), yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).” ( QS. Al Ahzab : 6 )

Maksudnya adalah hak-hak rasulullah lebih layak didahulukan daripada hak-hak diri mereka sendiri sebagaimana firman Allah tadi, mengapa demikian? karena rasulullah lah yang menyelamatkan kita di dunia dan di akhirah dengan izin Allah subhanahu wata’ala, di dunia dengan doa dan di akhirah dengan syafaat al kubraa. Mengapa rasulullah sebagai penyelamat di dunia dan akhirah?! karena Allah yang menghendaki rasulullah untuk menjadi penolong kita dan memberi syafaat untuk kita, jika Allah tidak berkehendak maka rasulullah pun tidak akan bisa memberi syafaat untuk kita, oleh sebab itu Allah berfirman bahwa rasulullah lebih berhak didahulukan haknya dari kita sendiri. Namun jawaban beliau shallallahu ‘alaihi wasallam begitu indah sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alahi wasallam:

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ إِلَّا وَأَناَ أَوْلىَ النَّاسِ بِهِ فيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اقْرَءُوْا إِنْ شِئْتُمْ : ( النَّبِيُّ أَوْلَى ‏بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ) فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ تَرَكَ مَالاً فَلْيَرِثهُ عَصَبَتُهُ مَنْ كَانُوْا، فَإِنْ تَرَكَ دَيْناً أَوْ ‏ضَيَاعاً فَلْيَأْتِنِيْ وَأَنَا مَوْلَاهُ

“Tidak ada seorang mukmin pun kecuali aku lebih berhak atas dirinya baik di dunia maupun akhirah, ketahuilah oleh kalian bahwa Nabi (Muhammad saw) itu lebih berhak atas kaum muk-min daripada diri mereka sendiri, maka mukmin manapun yang mati dan dia meninggalkan harta maka keluarganyalah yang akan mewarisinya siapa pun mereka dan siapa saja yang me-ninggalkan hutang atau tanggungan maka serahkanlah kepadaku maka akulah yang bertanggungjawab menyelesaikannya.”

Beliaulah majikan seluruh ummat, yang diberikan oleh Allah kepada kita yang siap membayar hutang kita. Berkata para mufassir bahwa yang dimaksud bukan hanya hutang harta tetapi juga hutang dosa pun beliau yang akan menebusnya dengan memberikan syafaat di hari kiamat, seraya bersujud kepada Allah dan berkata : “ummati ummati”, demikian indahnya kekasih kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Di saat kita dilupakan para kekasih kita, dimana di saat itu tidak ada yang mau kenal dengan pendosa, seorang bapak atau ibu jika anaknya adalah seorang pendosa maka ia tidak akan mengakui bahwa dia adalah anaknya begitu pula sebaliknya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ ، يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

( الحج : 1 – 2 )

“ Hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat), (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah segala kandungan wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.” ( QS. Al Hajj : 1 – 2 )

Wanita-wanita yang hamil menggugurkan kandungannya karena takut dan tidak bisa bertanggung jawab di sisi Allah, yang barangkali dia bermaksiat atau memakan makanan yang syubhat sehinga akan dituntut oleh sang bayi, atau sang bayi di bawa ke tempat bermaksiat maka bayi akan menuntut di dalam rahimnya, dan disaat itu tiada lagi perhitungan dosa, karena perhitungan dosa berhenti setelah sajaratul maut. Begitu pula di saat itu ibu-ibu yang menyusui bayinya akan melemparkan bayinya karena khawatir akan dituntut jika telah membawa mereka ke tempat maksiat, atau telah memberi mereka makanan yang haram atau syubhat, bayi-bayi itu tidak diajari kalimat-kalimat Allah, kalimat dzikir, namun hanya diajari hal-hal yang munkar atau yang lainnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ ، يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ، وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ، وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

( عبس : 33 – 37 )

“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala ), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 33 – 37 )

Di hari itu masing-masing sibuk dengan urusan mereka sendiri, karena urusannya adalah api neraka atau surga Allah subhanahu wata’ala. Siapa yang tidak takut jika namanya akan dipanggil oleh api neraka ?! Allah subahanahu wata’ala juga berfirman :

سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ ، لِلْكَافِرِينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ ، مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ ، تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ ، فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا ، إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا ، وَنَرَاهُ قَرِيبًا ، يَوْمَ تَكُونُ السَّمَاءُ كَالْمُهْلِ ، وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ ، وَلَا يَسْأَلُ حَمِيمٌ حَمِيمًا ، يُبَصَّرُونَهُمْ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ ، وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ ، وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِ كَلَّا إِنَّهَا لَظَى ، نَزَّاعَةً لِلشَّوَى ، تَدْعُوا مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّى

( المعارج : 1 – 14 )

“ Seorang penanya telah menanyakan hari kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir (yg menolak agama Allah yg dibawa nabi Muhammad saw), yang tidak seorangpun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat yang tinggi. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi). Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang berterbangan), Dan tidak ada seorang pengasuh tidak menanyakan bayi asuhannya, ketika telah diperlihatkan hal itu. Orang pendosa besar ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya. Dan isterinya dan saudaranya, Dan familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, Yang mencerai beraikan tulang satu sama lain, Yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama).” ( QS. Al Ma’aarij : 1- 17 )

Allah memerintahkan kepada nabi dan ummatnya untuk bersabar, dan mereka menganggap bahwa hari kiamat itu masih sangat jauh (mustahil) namun bagi Allah sangatlah dekat (pasti terjadi), dimana di hari itu langit mencair bagaikan besi yang dipanaskan anak-anaknya ingin dikorbankan agar masuk neraka asalkan dia selamat dari api neraka, dia akan mengorbankan anak, teman atau saudaranya, ayah atau ibunya, bahkan semua manusia di bumi untuk keselamtannya, namun sekali-kali tidak akan bisa demikian, sungguh api neraka itu sangat menyala-nyala yang bisa mengelupaskan kulit kepala. Dan api neraka itu berwarna hitam karena telah dipanaskan oleh Allah selama 1000 tahun kemudian api itu memanggil nama-nama orang yang berpaling dari agama Allah, para pendosa, pemabuk, pezina, maka bagaimana keadaan mereka jika telah dipanggil oleh api neraka yang bergejolak, padahal jika batu dilemparkan kedalamnya akan sampai ke dasar api neraka selama 40 tahun, yang rasulullah sabdakan bahwa siksaan yang paling ringan adalah dipakaikan untuknya sandal dari api yang sangat panas sehingga bisa membuat otak meleleh dan tenggorokannya terputus karena panasnya, dan dalam keadaan seperti ini mereka para pendosa lari kepada nabi Adam AS dan nabi-nabi yang lainnya, namun mereka semua berkata : “nafsi nafsi”, (diriku..diriku..) kemudian mereka datang kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan selama mereka tidak berpaling dari Islam maka akan disyafaati oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal ketika itu mereka diusir dari rasulullah, ketika rasulullah bertanya : “wahai malaikat mengapa mereka terusir dariku?”, malaikat menjawab : “mereka berubah setelah engkau wafat wahai rasulullah”, namun setelah mereka lari kepada nabi-nabi yang lain dan mereka ditolak maka mereka kembali lagi kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “aku yang akan menolongnya”, maka beliau berdiri kemudian bersujud di bawah arsy memintakan syafaat untuk mereka. Dan para nabi yang lainnya ketika mereka dimintai syafaat mereka berkata: “hari ini Allah murka dengan kemurkaan yang belum pernah Allah murka seperti ini dahsyatnya, dan tidak akan murka lagi sedahsyat hari ini, ini adalah hari terdahsyat kemurkaan Allah, maka tidak ada satu pun dari kami yang berani maju”. Namun di saat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap Allah di hari dimana Allah sangat murka. Neraka bukanlah kemurkaan Allah, karena neraka akan hancur jika terkena kemurkaan Allah, namun neraka hanyalah tempat orang-orang yang dimurkai Allah, karena jika Allah murka pada neraka maka neraka itu akan hancur lebur karena kemurkaan Allah subhanahu wata’ala. Dan di hari yang begitu menakutkan itu, Rasulullah bersabda : “Aku bersujud di bawah ‘arsy dan Allah memujiku dengan pujian yang belum pernah Allah berikan kepadaku sebelumnya, dan aku memuji Allah dengan pujian yang belum aku tau sebelumnya”, kemudian Allah subhanahu wata’ala berfirman :

يَا مُحَمَّدْ، اِرْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu ucapkanlah keinginanmu niscaya akan kudengar (kukabulkan), dan berilah syafaat agar mereka memberi syafaat”

Maka diantara mereka ada yang sudah tenggelam di jurang api neraka, ada yang akan jatuh di shirat, ada yang masih bermasalah di dalam persidangan akbar, kesemuanya disyafaati oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika masih banyak yang belum mendapatkan syafaat maka rasulullah kembali lagi memohon kepada Allah, dan dari situlah rasulullah membukakan seluruh syafaat kepada semuanya untuk diberi hak syafaat, mulailah para nabi yang lain, para shalihin, para ulama’, para syuhada’, anak-anak yang shalih dan anak-anak yatim diberi hak syafaat, bahkan hewan-hewan kuban, masjid-masjid, dan semua amal-amal shalih diberi hak syafaat agar bisa mensyafaati yang lain dari keluarganya, teman-temanya, dan para kerabatnya untuk mendapatkan pertolongan, sehingga yang telah berada di neraka pun bisa terangkat karena syafaat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara mereka ada yang mendapatkan 1 hak syafaat, ada yang mendapatkan 10, ada yang mendapatkan 1000 dan seterusnya. Demikianlah rasulullah membagikan hak-hak syafaat namun masih banyak yang berada di dalam api neraka, maka rasulullah kembali bersujud dan bersujud dalam riwayat hingga 4 kali, sehingga tidak ada lagi yang berada di dalam api neraka kecuali orang-orang yang sama sekali tidak memiliki amal baik, maka di saat itu Allah berfirman : “sekarang aku yang akan member syafaat, aku tidak akan menjadikan orang yang menyembahku sama dengan orang yang tidak menyembahku, maka angkatlah dari api neraka semua orang yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah walaupun mereka sama sekali tidak mempunyai amal baik”. Maka mereka keluar dari neraka dan masuk ke dalam surga maka penduduk surga bertanya siapakah mereka, maka dikatakan bahwa mereka adalah penduduk neraka yang masuk surga tanpa amal namun mereka tidak menyekutukan Allah. Mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam golongan mereka, namun termasuk dalam golongan yang pertama kali masuk surga, amin. Bahkan sebelum hari kiamat, di saat kita masuk ke dalam kubur, maka di saat itu kita akan ditanya sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “bahwa kalian akan difitnah (diuji) di dalam kuburan seperti atau mendekati fitnah Al Masih Dajjal, akan ditanyakan kepada mereka : “apa pengetahuanmu tentang lelaki ini ( Muhammad saw), maka orang yang beriman akan menjawab:

هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا هُوَ مُحَمَّدٌ ثَلَاثًا

“Ia adalah Muhammad utusan Allah, datang kepada kami membawa keterangan dan petunjuk, kamipun menjawab seruannya dan mengikutinya, ia adalah Muhammad 3x”.

Maka malaikat berkata kepadanya : “Tidurlah dengan tenang, kami telah mengetahui bahwa engkau meyakininya”. Adapun orang yang fasiq atau munafiq akan berkata :

لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ

“Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka akupun mengatakannya”.

Kemudian ia dipukul dengan palu besi oleh malaikat maka ia menjerit dengan jeritan yang didengar oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia, sebagaimana sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :

لَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“jika kalian tidak saling menguburkan mayat satu sama lain (mati satu persatu), aku akan berdo’a kepada Allah agar kalian dapat mendengar jeritan yg dikubur”

Sebagaimana disebutkan juga dalam riwayat Shahih Al Bukhari ketika jenazah seorang shalih telah di bawa maka ia akan berkata : “qaddimuuni : percepat aku”, namun orang yang fasiq akan berkata : “ sungguh celaka, akan dibawa kemana jasadku ini ?” , Rasulullah bersabda jika jeritan itu didengar oleh manusia maka ia akan mati karena dahsyatnya jeritan itu.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Demikian agungnya syafaat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh sebab itu beliau ingin mengangkat derajat ummatnya kepada kesempurnaan iman yaitu dengan mencintai beliau lebih dari keluarganya, kerabatnya dan hartanya. Sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari ketika sayyidina Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

ياَ رَسُوْلَ اللّهِ، وَاللّهِ لَأَنْتَ أَحَبَّ إِليَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِيْ

“Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.”

Kemudian rasulullah berkata:

لاَ يَا عُمَرْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

“Tidak wahai Umar, tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri”

Maka sayyidina Umar berkata :

ياَ رَسُوْلَ اللّه وَاللّهِ لَأَنْتَ أَحَبَّ إِليَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى مِنْ نَفْسِيْ

“Wahai rasulullah, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu, bahkan dari diriku sendiri”

Kemudian rasulullah berkata :

اَلْاَنْ يَا عُمَرْ

“ Saat ini pula wahai Umar (imanmu telah sempurna)”

Mungkin kita tidak mampu seperti itu, namun setidaknya kita mencintai dan merindukan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jangan pernah mengira karena kita hidup jauh berabad-abad dari rasulullah berarti kita percuma saja mencintai rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak demikian namun Rasulullah melihat umat-umatnya yang mencintai dan merindukan. Sebagaimana diperlihatkan pula amal-amal ummatnya setelah mereka wafat, dan jika mereka beramal baik maka rasulullah memuji Allah dan jika mereka banyak berbuat dosa maka beliau memohonkan ampunan untuk mereka. Rasulullah melihat ummatnya di barat dan timur yang selalu bermaksiat, penuh dengan perzinahan, perjudian, pertikaian, pembunuhan dan segala kemungkaran, begitu juga dengan orang-orang yang berkumpul berdzikir dan bershalawat karena rindu kepada beliau, meskipun mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti apa-apa namun mereka rindu kepada rasulullah, ingin melihat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan saat beliau akan wafat beliau berkata: “ Kelak setelah aku wafat kalian akan menghadapi sesuatu yang kalian tidak sukai dan mengingkarinya, maka bersabarlah hingga kalian menjumpaiku di telaga Haudh”. Hadits ini bukan hanya untuk para shahabat saja, namun untuk semua ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena Al Imam Bukhari di dalam Siyar a’laam An nubalaa ketika beliau terkena fitnah hingga terusir dari beberapa wilayah karena fitnah-fitnah yang menyebar, maka para murid beliau meminta beliau untuk menjawab dan mengklarifikasi fitnah-fitnah itu sebab beliau adalah orang yang berilmu. Sebagaimana seseorang datang kepada beliau dan berkata : “wahai Imam, aku masuk ke suatu kampung dan selesai shalat aku dihujani dengan pertanyaan tentang hadits-hadits shalat”, maka Al Imam Bukhari berkata: “Jika aku disitu akan aku keluarkan 10.000 hadits shahih tentang shalat”, itulah Al Imam Bukhari namun beliau tidak mau mengklarifikasi orang-orang yang memfitnah beliau, bahkan beliau berkata : “sungguh aku teringat sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّكُمْ سَتَلَقَّوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلَقَّوْنِي عَلىَ الْحَوْضِ

“Sesungguhnya kalian akan menjumpai sikap mengutamakan kepentingan pribadi (keegoisan), maka bersabarlah kalian sampai kalian berjumpa denganku di Al-Haudh (telaga).”

Maka lebih baik aku bersabar untuk menjumpai rasulullah di telaga Haudh.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita berdzikir dan bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah mengangkat seluruh musibah yang menimpa kita, mengangkat seluruh kesulitan kita, menghapus seluruh hutang kita, menyempurnakan segala amal ibadah kita, dan mengampuni seluruh dosa-dosa kita. Wahai Allah kami yang berkumpul di tempat ini, dan yang menyaksikan dan mendengarkan acara ini di streaming website majelis rasulullah jangan tersisakan diantara kami terkecuali kami mendapatakan kebahagian di dunia dan akhirah, jauh dari api neraka, wafat dalam husnul khatimah, dan juga penduduk di seluruh wilayah khususnya ibukota negeri muslimin terbesar ini limpahilah hidayah untuk mereka yang selalu bermaksiat, dan yang selalu berpaling dari-Mu. Dan kita berdoa untuk kedamaian dan keamanan bangsa dan seluruh penduduk di barat dan timur, untuk diri kita, saudara-saudara kita, orang-orang tua kita dan kerabat-kerabat kita, mereka yang masih hidup atau yang telah wafat semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita doakan semua saudara kita yang sakit agar diberi kesembuhan, dan saya juga mohon doa semoga Allah memberikan kesembuhan untuk penyakit di kepala saya ini. Sungguh jika berbicara dosa maka saya lebih berhak untuk mendapatkan penyakit lebih dari ini untuk penghapusan dosa, namun yang saya risaukan akan mengganggu kehadiran saya di mejelis-majelis. Jika puluhan ribu jama’ah menunggu kehadiran saya dan mereka kecewa maka semakin besar dosa saya, karena saya tidak mampu berangkat jika penyakit saya kambuh. Saya telah berikhtiar dan berusaha berobat, namun di Singapura tidak bisa diobati lagi karena masih usia di bawah 50, jika usia manula masih bisa diobati, dan bisanya di Australia. Mudah-mudahan kita masih bisa jumpa lagi di Muharram yang akan datang, amin. Rasulullah wafat karena penyakit di kepala beliau, dan jika Alla pilihkan saya wafat maka saya memilih untuk diwafatkan dengan sakit kepala, namun jika Allah pilihkan usia panjang maka saya memilih untuk dipanjangkan usia oleh Allah untuk kemuliaan dan keluhuran. Selanjutnya kita lanjutkan dengan pembacaan qasidah Ya Arhamarrahimin oleh Al Habib Ibrahim Aidid kemudian kalimat talqin dan doa penutup oleh Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, yatafaddhal masykuraa.

Selasa, 07 Desember 2010

Kunci Kesuksesan Dakwah di Muka Bumi Senin, 29 November 2010

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Sunday, 05 December 2010
Kunci Kesuksesan Dakwah di Muka Bumi
Senin, 29 November 2010


قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُعْطِيْتُ مَفَاتِيْحَ اْلكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَبْيَنمَا أَناَ نَائِمٌ اَلْباَرِحَةَ إِذْ أُتِيْتُ بِمَفَاتِيْحِ خَزَائِنِ اْلأَرْضِ حَتَّى وُضِعَتْ فِيْ يَدِيْ، قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ فَذَهَبَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَأَنْتُمْ تَنْتَثِلُوْنَهَا
(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : "Aku telah diberi kunci-kunci pembuka semua kalimat (Al Qur'an) dan aku diberi pertolongan dengan gentarnya musuh, dan antara aku tidur semalam, maka kulihat seluruh kunci kesuksesan dakwah di bumim hingga ditaruhkan ditanganku". Berkata Abu Hurairah ra: "Serelah Rasulullah saw wafat maka kalian yang mendapatkannya dan memunculkannya". (Shahih Bukhari)

ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ الحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ .

Limpahan puji kehadirat Allah Yang berhak dipuji, yang dengan memuji-Nya terangkatlah hamba-Nya kepada cahaya keterpujian di dunia dan akhirah. Allah subhanahu wata’ala tidak membutuhkan pujian namun Allah mencintai hamba yang memuji-Nya, karena pujian muncul dari cinta, semakin banyak seseorang memuji Allah maka itu merupakan bukti bahwa ia semakin banyak mencintai Allah, dan jika ia mencintai Allah maka itu adalah bukti bahwa Allah mencintai-Nya, jika ia rindu kepada Allah maka itu adalah bukti bahwa Allah juga rindu kepadanya, sebagaimana sabda pemimpin dan idola kita sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling sopan dan ramah, makhluk yang paling indah, manusia yang paling banyak tersenyum, yang selalu menghibur tamu-tamu dan

semua orang dengan senyumannya, dan senyumnya meruntuhkan kesedihan orang yang melihatnya, sehingga dikatakan oleh sayyidina Anas bin Malik RA di dalam Shahih Al Bukhari :

مَا رَأَيْنَا مَنْظَرًا أَعْجَبَ مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tidak pernah kami melihat suatu pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah sang nabi (Muhammad Saw)”

Semoga Allah memuliakan penglihatan kita dengan memandang indahnya wajah sang nabi di dunia, di barzakh dan di akhirah, wahai Yang Maha Mendengar dan Yang selalu bersama kami di dunia, di barzakh, dan di akhirah, Yang Maha dekat kepada setiap hamba-Nya, dan telah mengirimkan kabar kepada sang nabi bahwa Dialah Yang Maha Dekat kepada setiap hamba-Nya, dengan firman-Nya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

(البقرة: 186 )

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran ” ( QS. Al Baqarah: 186 )

Jika hamba-hamba Allah menyeru-Nya maka dijawab oleh Allah, namun jawabannya bukan dengan suara tetapi dengan pahala. Kita hanya bisa mengeluarkan suara, keinginan, harapan dan cita-cita, dan Allah membalasnya paling sedikit dengan pahala, namun bisa ditambah pula dengan pengabulan doa bahkan bisa ditambah lebih dari yang kita minta, karena Allah telah memberi sebelum kita meminta. Berjuta-juta hajat yang tidak kita ketahui telah Allah berikan sebelum kita memintanya. Bukankah bergerak adalah hajatmu?, bukankah melirik ke kanan atau ke kiri itu juga hajatmu? kesemua itu adalah hajat kita namun kita tidak perlu meminta izin kepada Allah untuk melakukannya dan kita tidak menciptanya sendiri, Allah Yang telah menciptakan kita dari seekor sel menjadi tubuh ini bisa melihat dan bisa mendengar, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala berfirman :

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

(الملك: 23 )

“ Katakanlah, “Dialah yang menciptakanmu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani untukmu, (tetapi) sedikit sekali yang bersyukur ” (QS. Al Mulk: 23)

Namun ada juga manusia yang terlahir tidak bisa melihat, akan tetapi hatinya tetap diberi penglihatan oleh Allah subhanahu wata’la. Bahkan ada orang yang matanya bisa melihat namun hatinya tertutup, atau ia menutup dirinya dari melihat keluhuran Allah, padahal Allah Maha Dekat kepada yang buta hatinya atau yang buta matanya, Allah Maha Dekat kepada semua hamba-hambaNya. Tidak ada yang lebih dekat denganmu selain tuhanmu, namun kedekatan-Nya tanpa jarak, Allah subhanahu wata’ala jauh tanpa jarak dan dekat tanpa sentuhan bahkan lebih dekat daripada sentuhan. Allah “dekat” berarti Allah menawarkan kelembutan dan kedekatan-Nya, dan bukan lagi ditawarkan bahkan dikenalkan bagi siapa yang menginginkan dekat dengan Allah, maka Allah telah mengatakan “Aku Dekat” , siapa yang ingin mengatakan kepada Allah : “wahai Allah, aku dekat kepada-Mu dengan doa, amal dan istighfar namun kesemua itu mustahil bisa membuatku dekat kepada-Mu kecuali dengan kehendak-Mu, namun ketika aku telah mendengar firman-Mu bahwa Engkau Maha Dekat, maka karena itulah aku berani memohon kepada-Mu kedekatan”, karena Engkau telah berfirman kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

( البقرة: 186 )

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran ” ( QS. Al Baqarah: 186 )

Maka dengan firman-Mu itulah kami memohon kedekatan kepada-Mu, yang telah Engkau janjikan kepada kami kedekatan berupa pengampunan-Mu, kasih sayang-Mu, dan kelembutan-Mu. Wahai Allah berikan kepada kami kedekatan yang hakiki kepada-Mu.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Ketika seseorang mendekat dengan Allah maka ia akan semakin asyik dengan Allah, ia semakin tidak terganggu dan risau dengan musibah, tidak pula terganggu dengan kenikmatan karena telah merasakan hakikat kenikmatan yang lebih dari kenikmatan surga, hal itu ia rasakan di dunia sebelum di surga. Ia akan merasakan kelezatan dzikir jauh lebih nikmat daripada surga beserta isinya. Getaran jiwa yang rindu kepada Allah sungguh sangat indah bahkan lebih indah dari surga, karena rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ

“ Barangsiapa yang rindu bertemu dengan Allah maka Allah juga rindu bertemu dengannya ”

Jika seseorang telah dirindukan perjumpaannya oleh Allah subhanahu wata’ala maka surga dan segala isinya sangatlah pasti ia dapatkan. Seseorang yang telah dirindukan oleh Allah maka siang dan malamnya penuh dengan keindahan bahkan selalu diperindah oleh Allah subhanahu wata’ala. Sangat berbeda antara orang yang melewati hari-harinya dengan kerinduan kepada Allah dan orang yang melewati hari-harinya dengan pemikiran yang kosong, Allah Maha Melihat pada sanubari kita yang terdalam, maka hari-hari dan malam-malamnya berbeda, detak nafasnya berbeda, karena orang-orang yang merindukan Allah subhanahu wata’ala itu nafasnya jauh lebih luhur daripada ibadah orang lain. Dalam riwayat yang tsiqah dijelaskan bahwa ketika seseorang sedang melakukan shalat maka syaitan mendekat kepadanya, dan disebelah orang yang shalat ada orang yang sedang tidur, dan syaitan tidak bisa mendekat kepada orang yang shalat tadi, ketika ditanya mengapa engkau (syaitan) tidak bisa dekat kepada orang yang sedang shalat itu, maka syaitan itu menjawab: “aku tidak bisa mendekat kepada orang yang shalat untuk mengganggunya karena nafas orang yang tidur itu membakarku”, karena orang yang tidur itu adalah orang yang rindu kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga cahaya rabbul ‘alamin berpijar di dalam jiwanya. Hadirin hadirat, sebelum kita masuk ke alam sanubari yang rindu kepada Allah, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ اغْبرَّتْ قَدمَاهُ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“ Barangsiapa yang kakinya berdebu (karena berjalan) di jalan Allah maka Allah haramkan darinya api neraka ”

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa hal itu bukan hanya untuk orang yang berjihad saja, tetapi untuk semua orang yang melangkah menuju jalan yang diridhai Allah, termasuk berjalan ke majelis dzikir, ke majelis ta’lim, ke majelis shalawat atau ke masjid, karena hadits ini diriwayatkan ketika nabi Muhammad pergi untuk shalat Jum’at, maka hal ini menunjukkan bahwa hadits ini bukan dikhususkan untuk yang berjihad saja tetapi untuk semua orang yang melangkah menuju jalan yang diridhai Allah, jika hanya kaki yang melangkah ke jalan yang diridhai Allah terkena debu maka Allah haramkan dia dari api neraka, maka bagaimana dengan jiwa yang rindu kepada Allah subhanahu wata’ala. Oleh sebab itu dijelaskan di dalam kitab Qabas An Nuur Al Mubin ringkasan dari kitab Ihya’ Ulumuddin oleh Al Musnid Al Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim Al Hafizh, bahwa ketika seseorang mengucapkan kalimat :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

(الفاتحة:
(6

“ Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus ” ( QS. Al Fatihah: 6 )

Dan ia memahami serta mendalami maknanya, sungguh rahasia kemuliaan ; derajat, anugerah, pahala dan lainnya tersimpan dalam kalimat itu. Kalimat “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”, maka ia telah mendoakan dan meminta petunjuk kepada Allah untuk semua kaum muslimin. Disebutkan pula dalam riwayat Shahih Muslim ketika seseorang membaca kalimat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(الفاتحة: 6-7 )

“ Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus,(yaitu) jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat ” (QS. Al Fatihah: 6-7)

Allah menjawab:

هَذَا لِعَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ

“ Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta ”

Maka hadirkan hati kita saat mengucapkan kalimat itu, oleh karena itu diperintahkan kepada kita untuk diucapkan minimal 17 kali sehari, untuk apa? untuk memperbaiki derajat kita agar semakin tinggi menuju keluhuran, karena ketika kita sendiri yang berjuang menuju keluhuran maka akan kita temui banyak hambatan, namun jika Allah yang menuntun kita, meskipun kita tidak mau maka kita akan tertuntun menuju keluhuran, misalnya seseorang tidak berniat untuk berbuat baik namun Allah anugerahi kepada kebaikan, ia tidak berniat untuk berbuat yang luhur namun Allah memberinya keluhuran karena Allah menghendakinya. Sebagaimana yang hadir di mejelis dzikir ketika Allah berkata kepada malaikat: “wahai malaikat-Ku, saksikanlah Aku telah mengampuni semua mereka yang hadir di majelis dzikir itu”, maka malaikat berkata: “wahai Allah, diantara mereka ada yang hadir bukan dengan niat ikhlas ibadah namun hanya ingin mendengarkan saja dan sekedar ingin duduk bersama”, maka Allah menjawab:

هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ

“ Orang yang duduk bersama mereka (yang berdzikir) tidak akan dihinakan ”

Hal ini menunjukkan bahwa niat berbuat baik tidak ada namun Allah muliakan dia karena Allah telah memberikan kepadanya keinginan untuk duduk bersama orang yang berdzikir padahal hatinya tidak ikut berdzikir, apalagi yang datang dengan niat berdzikir dan hatinya ikut berdzikir . Maka renungkanlah makna kesucian kalimat ini:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(الفاتحة: 6-7 )

“ Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus,(yaitu) jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat ” (QS. Al Fatihah: 6-7)

Kenikmatan dunia dan akhirah yang diridhai Allah subhanahu wata’ala sungguh sangat banyak, yang semua itu kita minta dalam doa kita, kita telah meminta kepada Allah agar kita selalu dibimbing Allah untuk selalu berbuat baik, selalu enggan untuk berbuat dosa, jika terjebak dalam dosa ingin segera bertaubat , jika berbuat ibadah ingin selalu lebih baik lagi dari yang telah diperbuat, serta memohon agar selalu dilimpahi kenikmatan, maka cita-cita apalagi dalam kehidupan kita selain hal-hal itu?!, karena itu adalah kehidupan yang terluhur dan tersimpan dalam makna surat Al Fatihah, yang telah Allah firmankan:

هَذَا لِعَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ

“ Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta ”

Hanya bagi yang memintanya, maka hadirkan hati kita ketika membaca surah Al Fatihah dalam shalat. Insyaallah yang hadir disini semuanya mengerjakan shalat, jika masih ada yang belum mengerjakannya semoga esok Subuh sudah mulai mengerjakannya, amin allahumma amin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kehidupan luhur itu milik Allah, kenikmatan milik Allah dan petunjuk ke jalan kemuliaan juga milik Allah, maka mintalah kepada-Nya. Kita tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan kita semata tanpa berdoa kepada Allah, karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَعْجَزُ النَّاسِ أَعْجَزُهُمْ عَنِ الدُّعَاءِ

“Orang yang paling lemah adalah orang yang paling lemah dari berdoa”

Semakin seseorang enggan berdoa maka dia semakin lemah dalam kehidupan, cepat terkena musibah, cepat terkena masalah, cepat terkena kesedihan, cepat terjebak dalam kekufuran, dan lainnya karena sedikit sekali berdoa. Sebaliknya semakin banyak seseorang berdoa maka hatinya akan semakin erat hubungannya dengan Allah subhanahu wata’ala dan akan semakin dijaga oleh Allah, dan juga tidak yang bisa menghalangi ketentuan Allah kecuali doa.

Sampailah kita kepada hadits luhur yang diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa rasulullah shallallahu melakukan shalat untuk para syuhada’ Uhud, para syuhada’ tidak dishalatkan namun rasulullah memberikan kekhususan kepada syuhada’ Uhud yang wafat untuk dishalati, terdapat dalam salah satu riwayat bahwa shalat yang dikhususkan untuk syuhada’ Uhud itu dilakukan dengan 40 kali takbir dan ada yang mengatakan dengan 70 kali takbir, jika kita hanya dengan 4 kali takbir. Dan dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari bahwa takbir itu merupakan doa untuk para syuhada’ Uhud atas kemuliaan wafat mereka dalam perang Uhud, dan setelah melakukan shalat, rasulullah naik ke mimbar seraya bersabda:

أُعْطِيْتُ مَفَاتِيْحَ اْلكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَبْيَنمَا أَناَ نَائِمٌ اَلْباَرِحَةَ إِذْ أُتِيْتُ بِمَفَاتِيْحِ خَزَائِنِ اْلأَرْضِ حَتَّى وُضِعَتْ فِيْ يَدِيْ

“Aku diberi kunci-kunci al kalam, dan aku diberi pertolongan dengan ketakutan (yang ada dalam dada musuh-musuhku), ketika aku tadi malam tertidur tiba-tiba aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi hingga diletakkan di tanganku”

Al Imam Ibn Hajar menjelaskan di dalam Fathul Bari bahwa makna kunci yang paling kuat dari seluruh pendapat para ulama’ adalah Al Qur’an Al Karim, dan ada pendapat lain yang dikatakan oleh Al Imam Ibn Hajar bahwa kunci atau rahasia segala perkataan ada pada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan diwariskan kepada ummatnya. Misalkan, seseorang berkata “lukisan”, maka jika diberikan kunci rahasia maknanya maka kata itu akan membuka keluhuran yang sangat besar bagi orang-orang yang mendengarnya, jika seseorang berkata “lampu” maka ketika dibuka rahasia kemuliaannya maka orang-orang akan menjerit menangis karena mendengar rahasia keluhuran, inilah yang dimaksud dengan “mafatiih alkalim (kunci-kunci perkataan)” pendapat yang kedua, namun pendapat yang terkuat adalah Al Qur’an Al Karim. Dan juga rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditolong dengan ketakutan yang ada di hati para musuhnya, hal ini juga terwariskan untuk ummat beliau. Para musuh-musuh rasulullah takut kepada beliau, jadi sebelum mereka para musuh bertemu untuk berperang maka mereka merasa takut terlebih dahulu, dan hal itu telah Allah berikan kepada semua orang yang memusuhi nabi Muhammad dan dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan orang-orang yang meneruskan dakwah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka orang yang memusuhinya pun akan ketakutan sebelum bertemu dengan mereka . Maka warisilah kemuliaan dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan akan engkau lihat orang-orang yang memusuhimu akan gentar sebelum berhadapan denganmu, karena engkau membawa rantai warisan dari sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً

“ Sampaikankanlah dariku meskipun satu ayat ”

Tugas telah sampai kepadamu, engkau telah diangkat oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjadi pewaris beliau, untuk menjadi wakil beliau, menjadi utusan beliau agar kita menyampaikan apa yang datang darinya walaupun satu ayat. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani mengatakan bahwa maknanya bukanlah satu ayat akan tetapi satu kalimat, demikian perkataan jumhur muhadditsin. Maka sampaikan walau satu kata pun dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, satu kata apapun dari kebaikan maka termasuk dalam hadits ini, itu adalah tugas untuk kita dari pimpinan terbesar di dunia dan akhirah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Rasulullah berkata ketika beliau sedang tertidur, ingat bahwa rasulullah matanya tertidur namun hatinya tidak tidur, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنََّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

“Sesungguhnya kedua mataku memang tidur namun hatiku tidak tidur”

Ketika beliau tidur dan dibangunkan oleh sayyidah Aisyah sebelum waktu fajar maka beliau bangun dan langsung melakukan shalat witir, maka sayyidah Aisyah berkata: “ wahai rasulullah, apakah engkau shalat tanpa wudhu?” maka rasulullah berkata:

يَا عَائِشَةُ إِنََّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

“Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku memang tidur namun hatiku tidak tidur”

Kelanjutan hadits tadi, Rasulullah berkata: “Ketika tadi malam aku tertidur , aku dibawakan kunci perbendaharaan bumi sehingga diletakkan di tanganku”, kunci kesuksesan dan keberhasilan itu diberikan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa harta, kekuatan, kedamaian dan lainnya, itulah makna kalimat “Khazaain al ardh”. Diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar bahwa makna Khazaain al ardh (pendaman-pendaman bumi) bisa bermakna harta, kesuksesan, kemudahan, atau kemenangan dan yang pasti adalah berupa bantuan yang besar yang membuat kita sukses, yang telah diserahkan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai kesemua itu diletakkan di telapak tangan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua kesuksesan telah diberikan kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana cara mendapatkannya?. Maka Abu Hurairah berkata melanjutkan hadits ini bahwa Rasulullah telah wafat dan kalian (ummat rasulullah) yang akan mendapatkannya. Kesemuanya akan ditumpahruahkan bagi mereka yang mau berjuang untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mau membantu dakwah sayyidina Muhammad, maka Allah menyiapkan kemakmuran dan seluruh kemakmuran telah Allah letakkan di tangan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kesuksesan itu ada pada baktimu kepada nabimu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dimana pun engkau berada dan amal apapun yang engkau perbuat seperti belajar, mengajar, bekerja, berdagang, menjadi suami, menjadi istri, menjadi tetangga, menjadi rakyat atau pemimpin, maka kesuksesan siap menantimu selama niatmu dipadu dengan cinta dan bakti kepada nabi kita Muhamma rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena semua kesuksesan ada di tangan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rahasia keluhuran ini terwariskan dan sampai kepada kita hadits luhur ini di malam hari ini dengan izin Allah subhanahu wata’ala, yang berarti semoga kita semua telah disiapkan oleh Allah untuk mewarisi kemakmuran dan kesuksesan yang telah diberikan ke telapak tangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak tersisa satupun dari kita yang hadir kecuali telah diberikan oleh Allah semua itu, allahumma amin. Tunggulah waktunya akan segera tiba, janji nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam akan segera muncul dalam hari-harimu. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling mulia, yang paling menyayangi, yang paling berterima kasih dan membalas jasa lebih dari perbuatan baik kepada beliau, kita lihat para pewarisnya diantaranya Al Imam Fakhrul wujud Abu Bakr bin Salim Ar , ketika datang kepada beliau seorang ibu yang telah lanjut usia membawakan semangkok bubur daging. Di rumah Al Imam Fakhrul wujud ini mungkin ratusan atau bahkan ribuan tamu yang datang, maka ibu itu datang ke rumah Al Imam kemudian ia bertemu dengan salah seorang murid yang menunggu tamu di pintu, maka ia bertanya : “wahai ibu, ada keperluan apa?” maka ibu itu menjawab: “tidak ada apa-apa hanya saya ingin memberikan semangkok bubur daging ini yang semalaman saya membuatnya khusus untuk Al Imam Abu Bakr bin Salim”, maka murid itu berkata: “wahai ibu kalau hanya bubur semangkok ini lebih baik ibu shadaqahkan ke fuqara’ karena di dapur banyak sekali makanan dan Al Imam setiap harinya menyembelih puluhan ekor kambing untuk menjamu para tamunya”. Maka si ibu itu merasa kecewa karena telah semalaman dia membuatnya untuk Syaikh Abu Bakr bin Salim, kemudian ia pulang dan berkata dalam hatinya bahwa memang betul semangkok bubur itu tidak ada artinya karena setiap harinya dapur Al Imam Abu Bakr bin Salim dipenuhi puluhan ekor kambing untuk para tamunya. Maka bergetar firasat Syaikh Abu Bakr bin Salim dengan kejadian itu, sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اتّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإنّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللهِ

“ Takutilah firasat seorang mukmin, karena ia melihat dengan cahaya dari Allah ”

Hati-hati dengan firasat orang mu’min dan orang-orang yang shalih karena dia memandang dengan cahaya Allah. Maka Al Imam Abu Bakr bin Salim yang saat itu sedang duduk dengan para tamunya tiba-tiba berdiri dan keluar dengan berlari, belum pernah orang-orang melihat beliau berlari, beliau keluar mengejar ibu itu dan berkata : “wahai ibu apa yang engkau bawa ?”, maka ibu itu berbalik dan berkata : “bukan apa-apa wahai imam, aku hanya membawa semangkok bubur yang kubuat semalaman untukmu, namun aku merasa malu ketika muridmu berkata bahwa di dapurmu setiap harinya dipenuhi dengan puluhan kilo beras dan puluhan ekor kambing, maka apalah artinya semangkok bubur ini yang seharusnya aku berikan kepada fuqara’ saja”, maka Al Imam Abu Bakr bin Salim berkata: “jazakillah khair, tidak ada hadiah yang lebih berharga dan lebih kusenangi dari ini”, maka bubur itu diterima oleh beliau kemudian beliau memberi ibu itu 1000 dinar . Dinar (kepingan emas) itu diberikan kepada ibu itu untuk membalas kebaikannya yang telah memberi beliau semangkok bubur daging. Maka Al Imam Fakhrul wujud berbalik kepada muridnya dan berkata: “wahai fulan, mengapa kalian ucapkan kata-kata itu?”, murid itu berkata: “wahai imam, para fuqara’ di luar banyak sedangkan di dapur makanan sangat banyak dan ibu itu hanya membawa semangkok bubur, dan bagaimana kita akan membawakannya kehadapanmu sedangkan engkau sedang mengajar di dalam”, maka Al Imam berkata: “Ibu itu membuatnya semalaman dengan ikhlas untuk memberikannya kepadaku, hal ini seperti keadaanku dihadapan Allah, yang beribadah siang dan malam namun tidak ada artinya dihadapan Allah , dan jika kalian menolak dia maka bisa jadi Allah akan menolak semua amal-amalku karena telah membuat kecewa ibu itu, oleh karena itu aku keluar untuk menyambutnya karena aku juga ungin disambut oleh Allah dengan amal-amalku yang tidak berarti”, seperti itulah balasan terima kasih dari Al Imam Fakhrul wujud Abu Bakr bin Salim Ar, maka terlebih lagi datuk beliau sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiah, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan diantaranya hari Minggu yang akan datang kita mengadakan acara siaran langsung di TV One, dan kita gembira dengan hal ini karena dakwah di media itu sangat penting, sebagaimana yang telah saya sampaikan di waktu-waktu yang lalu bahwa kita sudah menegur media-media yang terus menampilkan sesuatu yang bersifat tidak mendidik, dan saya sampaikan bahwa mereka yang menampilkan hal-hal itu ikut terlibat dosa di dalamnya, dua stasiun televisi yang saya sampaikan seperti itu, namun jawaban mereka sama : “kami hanya mengikuti kemauan pemirsa bib, jika di bulan ramadhan pemirsa menghendaki tayangan-tayangan islami maka kami ikut menayangkannya, pemirsa menghendaki yang lain pun kami ikut menyangkan yang lain”. Nah, jadi hal itu tergantung kemauan pemirsa, jika sekarang Allah telah bukakan pintu hidayah kepada media untuk berdakwah maka berapa banyak yang akan hadir di majelis ta’lim dari 200 juta penduduk yang ada di Indonesia ini, karena hampir semua rumah ada televisi. Bukannya kita mau riya’ dengan tampilnya kita di televisi, tetapi dakwah kita di televisi itu bukan hanya di majelis ta’lim lagi, tetapi masuk ke semua rumah-rumah, dan juga dzikir jalalah “Ya Allah” justru itu yang membuat mereka tertarik yang belum pernah dikumandangkan dan jarang didengar di Indonesia ini, terlebih lagi di media belum pernah didengar, maka mereka tertarik. Maka hal itu membuat tersebarnya dzikir “Ya Allah” dan masuk hampir ke setiap rumah di Indonesia. Hal itu tampaknya kecil dan ramah namun hakikatnya hal itu sangat agung karena dakwah bisa masuk hampir ke setiap rumah, dan ajaran dzikir terluhur masuk ke hampir setiap rumah disebabkan media, maka kerusakan dan pendidikan luhur pun bisa disebabkan media. Kemudian hari Selasa 7 Desember bertepatan dengan 1 Muharram 1432 H, dzikir akbar bersama TV One dan KH. Zainuddin MZ yang bertempat di Masjid At Tin Insyaallah. Dan Alhamdulillah dengan izin Allah subhanahu wata’al pihak TV One telah menyetujui untuk menyiarkan langsung acara dzikir akbar di Monas bersama guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh pada 27 Desember 2010, dan malam tahun baru. Stasiun TV yang lain menyiarkan tayangan-tayangan yang lain, namun TV One siap menyiarkan acara kita di Monas bersama guru mulia tanggal 27 Desember 2010 dan malam 1 Januari, semoga dakwah ini semakin dibantu oleh Allah subhanahu wata’ala, amin. Kita tidak mampu untuk memasuki media namun Allah yang mengaturnya dan memberi mereka hidayah, ini adalah sebagai bukti bahwa kunci-kunci kesuksesan dunia dan akhirah telah Allah berikan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan insyaallah akan semakin dekat bangkitnya Jakarta menjadi kota Pengidola sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kota yang mempelopori tersohornya dan termuliakannya dzikir “Ya Allah”, kita hanya bisa melakukannya di majelis-majelis saja, namun ternyata Allah tidak puas dengan hal itu, Allah menginginkan dzikir memanggil nama-Nya sampai ke seluruh wilayah di Indonesia agar disaksikan oleh seluruh penduduk Indonesia, demikian rahasia keluhuran, kita ingin berbuat seperti itu namun tidak akan mampu jika kita masuk ke setiap rumah-rumah untuk mengajarkan dzikir “Ya Allah”, namun Allah yang sampaikan. Demikian agung dan luhurnya rahasia anugerah Ilahi, kita berharap yang hadir di tabligh akbar bisa mencapai 5 juta muslimin muslimat, amin. Dan yang lain bisa menonton di televisi memilih siaran dzikir akbar dan melihat wajah guru mulia yang sedang bermunajat dalam doa. Beberapa yang lalu saya menghubungi guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh karena ada beberapa kendala dengan dzikir malam tahun baru yang akan kita adakan, dan saya memohon doa kepada beliau maka beliau menjawab: “qabul wanafa’, qabul wa nafa’, qabul wa nafa’ (dikabulkan dan manafaat besar)”, dan saya juga sampaikan bahwa kita saat ini setiap malam membaca dzikir jalalah “Ya Allah” sebanyak 500 kali, lalu beliau bertanya kenapa, saya menjawab: “untuk dijauhkan dari bencana dan musibah dan juga untuk menyambut kedatangan antum wahai Habib”. Dengan dzikir jalalah semoga hati kita dan wilayah kita semakin makmur dan luhur, kita menyambut kedatangan guru mulia dengan dzikir “Ya Allah” dan kita selalu berdoa setiap malamnya untuk kesuksesan acara-acara kita dan wilayah kita terjauhkan dari bencana dan musibah, dan untuk kedamaian wilayah kita amin allahumma amin. Pengumuman selanjutnya malam Minggu yang akan datang tanggal 4 Desember 2010 adalah Haul ayahanda Al Habib Fuad bin Abdurrahman Al Musawwa, kita tetap adakan acara maulid seperti di jadwal dan setelah itu ziarah ke Luar Batang sekaligus haul ayahanda dan membacakan manaqib sekilas tentang ayahanda Almarhum almaghfurllah Al Habib Fuad bin Abdurrahman Al Musawwa, namun jamaah jangan langsung datang ke Luar Batang, hadir dahulu majelis maulid dan majelis dzikir, karena jika hadir ziarah tanpa hadir di majelis dzikir maka hal itu kurang sempurna. Maka kita hadir dulu di majelis dzikir kemudian kita konvoi untuk ziarah, dan jangan lupa pengendara motor untuk menggunakan helm, semakin hari kita harus semakin perbaiki diri dan perbaiki nama baik kita, karena semakin banyak yang tidak menggunakan helm maka akan semakin jelek nama majelis kita, dan ingat kita membawa nama baik manusia yang paling mulia rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan nama kita. Jika majelis ini bernama majelis Habib Munzir maka seluruh dunia yang menghina dan menjelek-jelekannya pun tidak masalah. Tetapi jika Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jangan sampai dijelek-jelekkan oleh siapa pun kita usahakan hal itu, fitnah tidak akan bisa kita hindari namun kita selalu berusaha agar fitnah itu tidak timbul. Sebenarnya malam Minggu yang akan datang kita ingin langsung ziarah ke makam ayahanda almarhum tetapi tempatnya jauh di puncak Cipanas 90 Km siap tidak jika kita kesana?, yang tadi mengatakan siap maka dia mendapatkan pahalanya meskipun tidak pergi kesana, namun sangat repot karena kita konvoi dan jalannya pelan, berbeda jika kita jalan sendiri mungkin 2 atau 3 jam akan sampai, tetapi kalau konvoi bisa-bisa sampai pagi kesana. Jadi malam Minggu yang akan datang Haul ayahanda saya, semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan almarhum di alam barzakh, amin. Masyaallah beliau yang mendidik saya dan anak-anaknya dengan begitu tegas, beliau mengajarkan anak-anaknya membaca Al qur’an, menjauhi pergaulan yang tidak baik, dan beliau sendiri adalah orang yang selalu asyik membaca Al Qur’an dan jika membaca Al Qur’an beliau selalu menangis, ketika saya masih kecil kira-kira berumur 5 tahun, beliau selalu menaruh tikar di kebun beliau dan beliau membaca Al qur’an dan saya tidak boleh kemana-kemana, boleh bermain namun ketika beliau membaca Al qur’an maka saya tidak boleh jauh dari beliau. Beliau paling memanjakan saya yang selalu sakit-sakitan dan yang paling memalukan beliau, karena semua kakak saya telah wisuda sarjana dan hanya saya sendiri yang putus sekolah, beliau sendiri yang berkata kepada saya: “engkau ini jika ingin dunia maka betul-betul seriuslah, dan jika ingin akhirah seriuslah, kalau ingin belajar di sekolah umum maka belajar yang serius, jika ingin sekolah agama belajar yang serius, kamu ini putus di sekolah umum dan tidak pula di sekolah agama, hanya diam di rumah saja”, namun Allah subhanahu wata’ala menjawab doa beliau dengan suksesnya Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak bisa bangga dengan saya di masa hidupnya namun insyaallah beliau akan bangga di alam barzakh, amin. Dan hari Minggu tanggal 5 Desember jam 13.00 Wib sampai jam 15.00 acara bersama TV One di masjid Universitas Negeri Jakarta, sampaikan kepada teman-teman kita yang tidak ada udzur untuk hadir dan yang berhalangan hadir saksikan di televisi. Selanjutnya kita berdzikir bersama semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan seluruh niat kita, dan Allah memberi semua apa yang kita cita-citakan bahkan diberi lebih dari apa yang kita inginkan, dan Allah memberi apa yang kita minta lebih dari yang kita minta, hal itu tidaklah mustahil bagi Allah subhanahu wata’ala.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita terus berdoa, dan kita juga telah mendengar guru mulia akan terus mendoakan kita ketika disampaikan kepada beliau bahwa para jama’ah setiap malamnya berdzikir dengan membaca “Ya Allah” diantaranya untuk menyambut kedatangan beliau dan kesuksesan acara bersama beliau, maka beliau menjawab: “ra’aahumullah (semoga Allah menjaga mereka)”. Kita berharap beliau tidak hanya datang setahun sekali atau setahun dua kali, namun kita berharap beliau pindah ke Jakarta, amin allahumma amin. Sebagaimana rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah, semoga Allah memberikan anugerah agar beliau pindah ke Jakarta. Kenapa saya berbicara seperti itu, itu adalah cita-cita dalam sanubari kan boleh-boleh saja, demikian yang saya sampaikan, insyaallah kita bertemu di majelis-majelis berikutnya. Selanjutnya kita dengarkan qasidah Ya Arhamarrahimin dari fadhilah as sayyid Al Habib Ibrahim Aidid, kemudian doa penutup oleh Al Habib Sofyan Basyaiban, tafaddhal masykuuraa.

Sabtu, 04 Desember 2010

Kemuliaan Beramal di 10 Awal Dzulhijjah

Kemuliaan Beramal di 10 Awal Dzulhijjah
Senin, 15 November 2010



قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا الْعَمَلُ، فِي أَيَّامٍ، أَفْضَلَ مِنْهَا، فِي هَذِهِ، قَالُوا، وَلَا الْجِهَادُ، قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ، يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ، وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

(صحيح البخاري)

“Sabda Rasulullah saw: Tiada amal dalam hari hari lebih mulia dari hari hari ini (1-10 dzulhijjah), mereka bertanya: tidak juga Jihad fii sabilillah wahai Rasulullah?, Rasul saw bersabda: tidak juga jihad fi sabilillah kecuali orang yang berjihad dengan dirinya dan semua hartanya, dan tak kembali dg sesuatupun (harta dan nyawanya tak kembali). (Shahih Bukhari).


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata'ala yang telah bersumpah dengan kemuliaan 10 hari bulan dzulhijjah

وَاْلفَجْرِ , وَلَيَالٍ عَشْرٍ ,

Demi waktu fajar, (yaitu waktu Idul Adha yaitu fajar 10 Dzulhijjah), Demi malam malam yg sepuluh, (1-10 dzulhijjah)

وَاشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

Demi yg ganjil dan genap, (maksudnya tiada perbedaan antara ganjil dan genapnya kesemuanya 10 malam itu penuh dengan keluhuran), terikatlah kita kepada sabda Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang baru saja kita baca tadi :

مَا الْعَمَلُ، فِي أَيَّامٍ ، أَفْضَلَ مِنْهَا ، فِي هَذِهِ،

tidak ada suatu amal perbuatan, maksudnya sangat besar ibadah pahalanya itu dilipat gandakan oleh Allah subhanahu wata'ala) selain hari - hari ini, yaitu 10 hari di bulan dzulhijjah mulai tanggal 1 hingga tanggal 10 dzulhijjah.

Hadirin hadirat dijelaskan oleh Al Imam Hujjatul islam Ibn Hajar dan juga didalam syarah nawawi ala shahih muslim, juga para muhaditsin lainnya kalau amal - amal ibadah di 10 hari ini adalah dilipat gandakaan bukan 10 kali lipat tapi 700 kali lipat.Sekali kau menyebut Alhamdulillah tertulis 700 kali kau menyebutnya, sekali kau bershalawat maka terhitung 700 kali bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sekali kau berdoa kepada Allah terhitung 700 kali kau berdoa pada Allah subhanahu wata'ala, inilah rahasia keluhuran namun, dijelaskan oleh Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bahwa terdapat ikhtilaf akan pemahaman hadits ini karna sebagian hadits merujuk bahwa yang dimaksud hadits ini adalah bukan 10 malam pertama bulan dzulhijjah tetapi hari - hari tasyrik yaitu justru sesudah dzulhijjah, Namun kesimpulan dari dua pendapat ini adalah dari mulai 1 dzulhijjah sampai hari tasyrik berakhir kesemuanya termasuk ke dalam hadits ini dan inilah yang sempurna dari yang memaknai hadits ini yang paling sempurna daripada membijaksana yaitu mengambil kesempurnaan dari keseluruhan yang khilaf hingga dari mulai 1 dzulhijjah sampai berakhirnya hari tasyrik, sudah terlipat gandakan amal pahala kita 700 kali lipat.

Hadirin hadirat maka inilah malam malam doa, inilah malam malam untuk memperbanyak istighfar dan munajat, inilah malam malam untuk memperbanyak sujud,untuk memohon cahaya kepada yang Maha memiliki cahaya, maka selalulah berdoa agar Sang Maha Bercahaya melimpahkan kepadamu cahaya, sebagaimana manusia dan makhluk yang paling bercahaya (Nabi saw) selalu berdoa setiap harinya :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِّي نُورًا فِي قَلْبِي

Maka kita pun berdoa (sebagaimana doa nabi saw) :
“Wahai Allah jadikanlah sanubari kami dipenuhi cahaya, jadikanlah telinga kami dipenuhi cahaya (maksudnya pendengaran kita selalu menjadi sebab bercahayanya jiwa kita, bukan maksudnya pendengaran atau telinga kita bercahaya), maksudnya apapun yang kita dengar Allah menutup hal - hal yang hina masuk kedalam pemikiran tapi Allah menjadikan hal - hal yang mulia berlipat ganda maknanya. Mendengar satu hadits atau satu ayat maka telinga menyampaikannya kedalam pemikiran, pemikiran memahaminya jauh lebih besar dari yang di sampaikan oleh telinga. Hadirin hadirat, dan juga menjadikan penglihatan kita bercahaya, maksudnya membuat apa yang kita lihat tembok, warna, bentuk kesemuanya mengenalkan kita kepada sang Maha bercahaya menuntun kita dan membuat kita semakin ingat kepada yang Maha bercahaya “Allah”.

Hadirin hadirat Dialah, Yang Maha Bercahaya dan Maha Menciptakan cahaya, Cahaya Allah bukan menerangi mata, tetapi menerangi jiwa, cahaya Allah tidak bisa dilihat mata namun dilihat jiwa. Hadirin hadirat sebagaimana sabda Nabi Muhammd shallallahu 'alaihi wasallam. Setelah manusia melewati derajat iman ia akan melewat sampai kederajat ihsan,

الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Al Ihsan Agar kau beribadah seakan kau melihat Allah, jika kau tak melihat Nya maka Dia Melihatmu (Shahih Bukhari) “melihat Allah tentunya bukan dengan bentuk karena bentuk hanya untuk mahkluk, Allah Maha suci dari segala bentuk, namun kewibawaan Nya lah yang telihat oleh sanubari, keindahan terlihat oleh sanubari, cahaya keluhuran terlihat oleh sanubari sehingga semakin sanubari mengenal Allah semakin ia merasa kewibawaan Allah, semakin ia merasa seluruh alam semesta seakan tiada yang ada hanya Allah, walaupun ia, makan, minum, berbicara, bekerja, berumah tangga namun jiwanya tidak mau lepas lagi dari Allah.

Berkata Syekh Al Imam Ahmad al Alawiy mereka berkata mereka manusia melihat kami duduk berbicara diantara mereka padahal jiwa kami ada di puncak puncak tertinggi, selalu bersama keluhuran ilahi, selalu didalam dzikir, selalu didalam ingat kepada Allah selalu di dalam kemuliaan Allah, selalu asyik dalam samudera kerinduan Allah, jiwa seperti inilah yang membuat iblis melarikan diri menjauh sebagaimana terhadap Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu dan dikatakan Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bahwa ini bukan hanya kepada sayyidina Umar saja tapi terhadap banyak juga para sahabat lainnya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Diriwayatkan dalam riwayat yg kuat, bahwa ketika syaiton ingin menggoda seseorang yang ingin melakukan shalat maka ia terhalang untuk mendekat kepadanya selalu mundur dan mundur tidak bisa mendekat, dan disebelah orang yang shalat itu ada yang sedang tidur maka ketika ditanyakan kepada syaiton : “kenapa kamu terus mundur maju mundur tidak bisa mendekat pada orang yang shalat?” maka syaiton menjawab : “bukan orang yang shalat yang tidak bisa kudekati, tapi orang yang tidur ini nafasnya membakarku sehingga membuat aku tidak bisa mendekati orang yang sedang shalat itu, si tidur ini penuh dengan makrifah billah jiwanya, nafasnya penuh dengan dzikir dan saat ia tidur ia tidak lupa membaca doa - doa dan dzikir, tidak lepas dari surat/ayat al kursi, tasbih, tahmid, dan tahlil dan diakhiri dengan :

لآاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ,لَهُالْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Hadirin hadirat, hari hari yang penuh dengan cahaya keluhuran ini maka bercahayalah, bergemilanglah dengan cahaya keridoan ilahi, terang benderanglah dengan cahaya ketaatan, terang benderanglah dengan dzikir, terang benderanglah dengan sujud, singkirkan dulu dosa - dosa yang sudah niat kau buat nanti waktunya akan datang dan semoga tidak akan pernah datang waktu untuk berbuat dosa, kehabisan waktu untuk terus didalam cahaya luhur dan dengan cahaya luhur ini kau bisa diberi apa yang kau cita - citakan dan lebih dari yang kau cita - citakan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Fakhrul wujud Abubakar bin Salim “tinggalkan cita - cita mu jika kalian ingin cita - cita kami, namun setelah kalian mengikuti cara yang benar cahaya yang luhur dari tuntunan sang Nabi yang bercahaya luhur, maka kalian akan lihat cita cita kalian itu berdatangan kepada kalian”.
mereka mendapatkan apa yang mereka cita citakan, yg dahulu mereka tinggalkan demi mencapai keridhoan Allah, maka cita citaannya diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala . hal itu di Dunia dan di akhirah, kalau akhirah sudah jangan bicara lagi.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
rahasia keluhuran dzulhijjah sangatlah mulia dan ada satu hal yang perlu saya perjelas tentang masalah puasa arafah yang masih terus dipertanyakan karena perbedaan waktu antara kita dengan Saudi Arabia, walaupun pernah saya sampaikan bahwa arafah itu, hari arafah itu disana bukan disini maka layaknya puasa arafah ikut disana bukan ikut disini, karena arafah itu disana bukan disini, beda dengan perbedaan waktu penentuan puasa bulan ramadhan dan lainnya justru ia mempunyai waktu berbeda, kalau arafah waktunya satu, namun pertanyaan itu saya klarifikasi malam ini jawaban itu karena baru saja saya menyampaikan pertanyaan ini kepada dewan mufti Tarim hadramaut dijelaskan bahwa telah jelas fatwa dari majelis ifta disana (Majelis Ifta adalah majelis dewan para mufti di tarim Hadramaut) bahwa arafah pun mengikuti negerinya masing masing, karena perbedaan mathla’ul hilaal (terbitnya hilal/awal bulan yg berbeda di masing2 wilayah)
oleh sebab itu kita kalau mau puasa arafah kapan ? “besok”
“bagaimana yang hari ini sudah puasa...?”
Boleh dari tanggal 1 dzulhijjah ibadah sunah puasa sampai tanggal 9 boleh boleh saja, (hal itu) masuk hari tarwiyah (yg amal ibadah mulia padanya) jadi besok puasa arafahnya.
“lebaranya kapan?”
Besok malam takbiran insya Allah, dimana ?
diwilayah priok nanti diumumkan saya minta maaf idul fitri jama’ahnya sudah penuh sayanya yang tidak hadir, tapi tahun ini insya Allah sayanya hadir jangan jama’ahnya yang tidak hadir, sayanya hadir jama’ahnya tidak ada, hadirin hadirat inikan bukan idul fitri, kalau idul fitri banyak yang pulang kampung, banyak yang meninggalkan Jakarta, kalau idul adha sebaliknya yang dikampung datang ke jakarta ngambil bagian kurban, (dg nada canda) jadi mudah mudahan tahun ini lebih ramai takbirannya, amin. Masih dalam naungan kemuliaan dzulhijjah pahala dilipat gandakan 700 kali lipat jangan di sia - siakan rahasia keluhuran itu.

Saudara saudari ku yang ku muliakan,
riwayat Shahih Bukhari tentang sejarah makkah dan sejarah haji yang telah dimulai, dimulai dari mulai zaman Nabiallah Ibrahim Alaihi salaam, bahwa Allah telah memerintahkan sebagaimana riwayat shahih bukhari dalam hadits yang panjang Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk membawa istinya yaitu Siti Hajar bersama anaknya yaitu Nabi Ismail yang masih bocah di bawa ke makkah al mukaromah, di Makkah belum ada penduduknya saat itu masih padang pasir yang sangat kosong tidak ada satu manusia, tidak ada hewan bahkan tidak ada tumbuhan disitu barangkali ada hewan hewan didalam tanah yang berbisa (berupa kalajengking atau lainnya) biasa itu hewan penghuni padang pasir selalu ada. Maka Siti Hajar ditinggal disitu bersama putranya Ismail oleh Nabiyallah Ibrahim alaihi salam, maka berkatalah Siti Hajar wanita sholehah luar biasa, wanita itu konon lebih sering disebut lemah, wanita lebih lemah dari pria. Namun terbukti bahwa wanita sholehah yang berhati baja sangat membawa keluhuran. Siapa? Siti Hajar alaiha salam salah satu contohnya. Ia ditinggalkan oleh suaminya Nabi Ibrahim bersama bayinya Nabi Ismail alaihi salam.

Maka berkata Siti Hajar :
“Wahai Ibrahim, mau kemana kamu meninggalkan kami?”,
apakah kau akan tinggalkan kami di lembah ini?”,
maka Ibrahim alaihi salam tidak tega menjawab, diam saja dan terus melangkah lalu dikejar oleh Siti Hajar dan berkata :
“wahai Ibrahim kau tinggalkan kami, betul disini? tempat yang tidak ada tempat berteduh sekalipun, apalagi hewan, tumbuhan dan manusia?”
Nabi Ibrahim diam, Siti Hajar bertanya untuk kali yang terakhir,
Ia berkata
“ya Ibrahim, ‘Aaallahu Amaraka bihaadza?, wahai Ibrahim apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat ini? meninggalkan kami? Allah yang perintahkan?”,
Nabi Ibrahim berkata “na’am” (betul)
Maka ucapan Siti Hajar ini menjadi cermin bagi semua pria dan wanita yang beriman hingga akhir zaman seraya berkata siti hajar : “idzan Laa yudhayyi’naa”, kalimat singkat ini membuka rahasia keluhuran hidup sepanjang zaman hingga akhir zaman berakhir hingga manusia menghadap Allah. Apa?
“Kalau sudah Allah yang perintah, tidak akan Dia mengecewakan kami”
Itu keyakinan bisa membuat kesuksesan berpuluh ribu tahun tidak akan pernah berakhir, karena kalimat itu membuat kita menjadi abadi di dalam keluhuran. Wafat, keluhurannya abadi dunia dan akhirat. Maka Siti Hajar pun tenang, kalau Allah yang perintah tenang, Subhanallah!!. Kalau kita ditinggal suami atau istri, ditinggal oleh istrinya atau ditinggal oleh suaminya nggak tenang. Ini malah tenang, Allah yang perintah. Seribu suami itu tidak ada artinya dibanding kalau perintah Allah.

Hadirin hadirat,
seribu istri pun tidak ada artinya kalau sudah perintah Allah, semestinya demikian, tapi kan kita tidak semuanya mampu. Maka Siti Hajar melihat bocah yang masih kecil Nabi Ismail kehausan, naik ke bukit Shofa barangkali ada kafilah yang lewat, barangkali ada yang lewat kafilah bisa minta air, bisa minta makanan tapi tidak ada, masih penasaran naik ke bukit Marwah, lihat kiri kanan depan belakang nggak ada turun lagi, melihat bayinya mulai nangis kehausan, naik lagi ke bukit Shofa sampai tujuh kali, kali yang ke tujuh adalah di bukit Shofa, Shofa Marwah Shofa Marwah Shofa Marwah Shofa, di dekat bukit Shofa ia lihat Jibril alaihissalam, Malaikat Jibril alaihissalam turun dan berkata : Jangan kau takut dan jangan kau risau, anak ini dan ayahnya akan membangun Baitullah Ka’bah AlMusyarofah di tempat ini, jangan kau takut.

Maka keluarlah air dari dekat kakinya Siti Hajar alaihassalam lalu Siti Hajar langsung mendekati air itu dan berkata “zam…. Zam…” yang artinya “berkumpul.. berkumpul..”, sampai sekarang disebut air zam zam. Air itu pun dikumpulkan karena kan tanah, tanah kan kalau kena air berlumpur, jadi dibikin semacam pagar jadi lumpurnya kering sendiri di pinggirnya jadi air itu tidak tumpah kemana – mana dan dibikinkan semacam bukit kecil oleh Siti Hajar alaiha salam. Itu awal nama kalimat zam zam, dari ucapan Siti Hajar “zam zam”, yang artinya “kumpul kumpul” agar airnya tidak tumpah mengalir kemana mana, maka ia pun minum ternyata rasanya lebih lezat dari semua air.

Kita lihat asal muasalnya air zam zam itu darimana. Air itu beda rasanya dengan semua air yang ada di dunia, asal muasalnya dari kalimat “idzan laa yudhayyi’naa” kalau Allah yang perintahkan, tidak akan Dia mengecewakan kami. Kesabaran dan keteguhan cahaya iman itulah yang membuat air zam zam itu membawa manfaat yang lebih dan juga membawa rasa yang lebih daripada semua air yang ada di muka bumi. Sebab apa? sebab taqwanya Siti Hajar alaiha salam dan kesabarannya terhadap perintah Allah. Air zam zam jadi air yang paling mulia di dunia, demikian dijelaskan didalam kutubulfuqaha (kitab kitab pembahasan para ahli fiqih), namun ada air yang lebih mulia dari air zam zam, tapi kita tidak kebagian, yaitu air yang keluar dari jari – jari Sayyidina Muhammad sholallahu alihi salam, tidak ada bandingannya dengan air yang ada di surga pun, masih lebih mulia air yang keluar dari jari – jari Rasulullah sholallahu alihi salam, karena keluar dari belahan tubuh Sayyidina Muhammad sholallahu alihi salam. Sedangkan Siti Hajar, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan semua manusia dibawah panji Muhammad Rasulullah sholallahu alihi salam.

Kembali kepada cerita air zam zam ini, sejarah air zam zam. Lalu hadirin – hadirat, kafilah lewat, melewati lembah Makkah, belum ada orang di Makkah belum jadi kampung, belum ada orang masih sepi, saat itu kafilah melihat ada burung, ini burung yang seperti ini menunjukkan ada air dekat sini, kita puluhan tahun lewat sini tidak pernah ada air, demikian riwayat Shahih Bukhari dengan hadits yang panjang. Maka, ayo coba kita lihat kesebelah situ, dilihat ditemukanlah satu danau kecil yang airnya terus mengalir deras, dipinggirnya duduk seorang wanita bersama bayinya yaitu Siti Hajar dan Nabi Ismail alaihimasshalaat wa alayhimassalaam, maka berkatalah mereka: “wahai ibu, boleh kami minum dari air ini?”, menjawab siti Hajar : “boleh, tapi bukan milik kalian”. Karena di zaman itu kalau bukan miliknya nanti diusir Siti Hajar dari situ, cara mereka di zaman itu. “silahkan minum Tapi bukan milik kalian, minum boleh, ambil semua silahkan, air tidak ada habis – habisnya. Mereka minum, diberikan minum pada hewan – hewan, mandi, semua mereka memakai air tidak habis – habis, terus keluar, keluar, keluar. Ini air ajaib, kalau begitu kita bikin kampung saja disini, kalau ada air ajaib ini semua orang butuh air, semua orang banyak lewat sini, kafilah, yang mau ke Irag yang mau ke wilayah mana yang lewat di situ banyak, pasti akan berhenti di sini, karna ada danau yang tidak ada habis habisnya dan rasanya berbeda, mulailah mereka membuat perkampungan, itulah sejarah kota Makkah. Jadi Sejarah Kota Makkah itu berasal dari wanita yang shalehah Siti Hajar alaiha salam.

Saudara saudariku yang kumuliakan,
Saya kembali kepada kalimat “idzan laa yudhayyi’naa” kalau Allah yang perintahkan, tidak akan Dia mengecewakan kami.”, jadilah kota Makkah, jadilah air Zam zam, jadilah Shofa dan Marwah itu harus di lewati dari rukun haji, bolak balik melewati langkah kaki kesabaran Siti Hajar alaihassalam, untuk menyelamatkan Nabi Ismail dari Shofa marwa Shofa Marwa bulak balik 7 kali itu menjadi rukun Haji.

Hadirin hadirat yang dimuliakan,
Untuk mengambil keberkahan yang di perbuat Siti Hajar alaiha salam. Kemudian Siti Hajar makin lanjut usia dan Nabi Ibrahim juga semakin dewasa lalu menikah, setelah menikah maka Siti Hajar alaiha salam wafat, berkatalah Siti Hajar alaiha salam “hai anakku Ismail, nanti ayahmu akan datang, dulu saat kau masih bayi, aku di datangi Jibril saat mencari air sampai di bukit Shofa bertemu Jibril, kata Jibril engkau dan ayahmu akan membangun Baitullah di sini, kalau ayahmu datang nanti aku sudah wafat sampaikan salamku padanya dan engkau akan membangun Baitullah bersama ayahmu”. Tidak lama datanglah Nabiyullah Ibrahim yang sudah lanjut usia, berjumpa dengan nabi ismail dan mereka saling berpelukan, kembali saling kenal karena keduanya adalah Rasul nya Allah subhanahu wata'ala.

Maka berkatalah Nabi Ibrahim :“kemana ibu?”, “ibu sudah wafat ayah”. “iya kita di perintah untuk membangun Baitullah di sini”
Merekapun membangun Baitullah, Baitullah itu sudah ada dari zaman Nabi Adam, dalam kitab kitab tafsir, Ka’bah itu diturunkan dari langit oleh Allah subhanahu wata'ala, untuk supaya Nabi Adam kalau rindu bisa lihat Ka’bah, kalau rindu kepada Allah, ka’bah diturunkan dari sorga, dan Posisi ka’bah itu sejajar langsung dengan Arsy nya Allah subhanahu wata'ala, hadirin hadirat namun hancur setelah kena banjir dan usia puluhan ribu tahun, juga banjir Nabiyallah Nuh dan lain sebagainya tidak ada lagi yg tersisa, maka jauh lama waktu kemudian barulah disuruh bangun lagi. Dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Nabi Ibrahim diam saja karena sudah lanjut usia, Nabi ismail ambil batanya, batanya terbuat dari tanah, satu satu di susun terus, Nabi Ibrahim yang menaruh, Nabi smail yang mengambil, terus sampai kemudian selesai mereka mengelililnginya selama 7 kali, sambil memeriksa apakah masih ada yang lowong atau masih ada celah, setelah 7 kali di putari maka berdiri Nabi Ibrahim di tempat yang kini di sebut makam Ibrahim, tapi sudah diratakan oleh masa sempalan abad ke 18 ini, mereka mengatakan itu syirik dan harus diratakan, padahal disitu ada telapak kaki Ibrahim diatas batu jelas terlihat, kalau kalian beli foto Ka’bah zaman dahulu, kalian akan lihat ada semacam kubah yang terbuat dari emas itu adalah telapak kaki Nabi Ibrahim didalamnya ditutup seperti kawat emas, diatasnya ada sedikit kubah seperti masjid kecil, itu dekat Ka’bah, itu maqam Ibrahim, Sunnah shalat sunnah disitu, bukan makamnya bermaknay kuburan, namum “maqaam” berarti tempat berdiri.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Nabi Ibrahim berdiri di tempat itu dan berdo’a "Rabbana taqabbal minna, innaka antassamii’ul ‘aliim."
Itu do’anya Nabi Ibrahim saat selesai membangun Ka’bah, maka itulah salah sebagian dari sejarah haji, kita mengenal minah dengan melakukan Sa’i naik turun kesana kemari, kenapa? Karena kita tidak mampu mendapat perintah seperti Siti Hajar itu tapi paling tidak Allah ttidak mau ummat ini tidak kebagian pahalanya, harus kebagian pahalanya juga, pahalanya Siti Hajar, bagaimana cara melibatkannya, ikut melintasi langkah langkah yang dilewati Siti Hajar dari Shofah ke Marwah, lalu ummat ini tidak kebagian pahalanya membangun Ka’bah seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ikut tawaf, mengitari 7 kali sambil berdzikir, lalu tidak kebagian kemulian do’a selesai membangun Ka’bah dengan do’a tsb, maka Ummat ini di sunahkan shalat sunah di tempat berdiri dan berdo’anya Nabi Ibrahim alaihi salaam, arafah adalah tempat berjumpanya Nabi Adam dan Siti Hawa, demikian salah satu pendapat.

Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, Riwayat yang Shahih dari Shahih Bukhari tetntang sejarah kota Makkah dan sejarah Ka’bah di bangun kembali.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Dari kalimat itu “idzan laa yudhayyi’naa” kalau Allah yang perintahkan, tidak akan Dia mengecewakan kami.” Kalau begitu, Dia Allah tidak akan mengecewakan kita… kalau sudah Allah yang perintah, ini harus kita pegang, perintah Allah itu tidak akan membuat kita kecewa kalau kita jalankan dengan benar, mampu tapi kalau kita tidak mampu lihat dari pada kemuliaan yang Allah berikan kepada kita, kita di beri kesempatan untuk tawaf, sa’i, untuk dapat keberkahan kemuliaan pahalanya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Siti Hajar disaat dalam kehausan dan itu tidak tahu bahwa langkah kakinya dari shofa ke marwa bolak balik itu akan Allah jadikan di lintasi puluhan juta manusia, ribuan tahun setelah ia wafat kelak untuk mendapatkan keberkahan pahala perbuatan sabarnya Siti Hajar alaihi salaam. Demikian juga kurban, kurban Nabi Ibrahim alaihi salaam, kita siapa yang mampu disuruh menyembelih anaknya, kita kebagian pahalanya menyembelih kurban. Hadrin hadirat riwayat shahih Muslim, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam sudah berkurban sebelum kita berkurban, pahala kurbannya Rasul saw sudah sampai kepada kita sebelum kita lahir, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam sudah berkurban dengan do’a :
“Wahai Allah terimalah kurban ini dari muhammad, dari keluarga Muhammad, dari ummat Muhammad”. Seluruh Ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sudah kebagian pahala kurbannya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk seluruh ummatnya, di Hadits lain, untuk ummatku yang berkurban.

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Kita berkurban untuk mendapatkan pahala, namun siapa yang diantara kita yang mau berkurban untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, berkurbannya berkorban untuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Hadirin, al Imam Abul ‘Abbas Muhammad bin Ishaq Attsaqafy, sudah sering saya jelaskan dia menyembelih 12 ribu ekor kambing untuk pahalanya pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kita kalau belum mampu berkurban, maka berkorbanlah untuk Nabimu Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, perbuatlah hal - hal yang beliau senang.

Dan mengenai musibah musibah yang datang jangan risau karna semua musibah itu digantikan dengan pahala, dan Rasul saw mengajarkan, di jelaskan barang siapa yang kehilangan 3 anaknya, wafat 3 anak darinya, Maka itu menjadi benteng baginya dari api neraka, lihat bagaimana Allah membayar kesedihan lebih dari pada kesedihan itu sendiri, para sahabat bertanya "Bagaimana kalau hanya 2 yang wafat dari anaknya?", Rasul saw berkata “Walaupun 2 anaknya yang wafat Allah jadikan itu benteng darinya dari api neraka”. Kalau kita punya 1000 anak lalu semuanya mati itu belum bisa membayar ucapan dari Allah dengan ucapan “Benteng baginya dari api Neraka”. Hadirin hadirat tapi kesedihan kita dibayar beribu kali lipat oleh Allah dengan bebasnya kita dari api neraka kalau kehilangan anaknya wafat diambil oleh Allah swt yang sangat ia cintai.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausyiah ini, setelah ini kita berdzikir sebagaimana biasa setiap malam kita berdzikir Jalaallah, selama 40 malam mungkin kita teruskan sampai kedatangan guru mulia kita pada 27 Desember, Insya Allah acara malam selasa di monas dan mohon do’anya juga acara selanjutnya di Glora Bung karno, pada tanggal 31 Desember atau malam 1 januari (malam tahun baru) dua kali acara terpaut hanya 4 hari, semoga acara kita sukses, namun rintanganya banyak sekali tapi kita tahu rintangn rintangan itu semoga hanya sebagai modal untuk suksesnya acara itu lebih sukses, amin Allahumma amin, dan kita berdo’a saudara saudara kita yang terkena musibah semoga Allah jauhkan musibah dari jakarta ini dan Allah jadikan hujan membawa musibah menjadi hujan pembawa Rahmat, kita berdzikir beberapa minggu yang lalu sudah mulai reda, hujan jakarta tidak kena banjir, hujan tapi hujannya tidak membawa banjir, gunung gunung statusnya sudah mulai turun, hanya kemarin saya agak sedikit kesal itu, mengapa? (dg nada canda) Sudah statusnya turun semua, saya lupa gunung bromo atau gunung semeru itu, malah di kasih sesajen di lempari kepala kerbau, ya sekarang berubah lagi statusnya naik, Laa haula wala quwata illa billah... Gunung sudah kita tenangkan, dengan dzikir dengan do’a dengan jakarta seluruh wilayah mendo’akan , di kasih sesajen marah lagi gunungnya (dg nada canda), gunung itu hamba Allah, hamba Allah tunduk kepada kewibawaan nama Allah swt.

Hadirin hadirat mari kita berdzikir menenangkan alam semesta ini dengan keagungan Nama Nya Yang Maha Luhur dan menenangkan jiwa kita dengan ketenangan dan kesejukan yang ada hanyalah Nama Allah swt, dan membuka seluruh rahasia keluhuran dhohir dan bathin dunia dan akhirat dalam kematian dan kehidupan kita yaitu keagungan Nama Allah, smoga terhapus seluruh dosa dosa kita, semoga Allah limpahi keberkahan, kemuliaan, keluhuran, kesucian, dan kemakmuran di hari mendatang dunia dan akhirat.

Wahai pemilik dunia dan akhirat

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Saudara saudara kami saat ini di medan Arafah sedang bermunajad, dan Rasul saw bersabda : “tidak pernah Allah melimpahi pengampunan lebih besar dari hari Arafah”. Mereka sedang dalam do’a dan limpahan pengampunan salurkan kepada kami semua yang hadir ya Rabb, kemuliaan Arafah, kemuliaan muzdalifah, kemuliaan Makkah dan Madinah, kemuliaan Sya’i, kemuliaan tawaf,

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله

Demi Kewibawaan Nama Mu tenangan bencana alam ini wahai Allah, gunung gunung tidak lebih berwibawa dari Nama Mu, Gempa Bumi tidak lebih kuasa dari nama Mu, hujan tidak bisa melebihi dari keluhuran Nama Mu

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله

Masing masing hadirin mempunya hajad, mempunyai masalah, punya kesulitan, punya hutang, punya kesedihan, punya cita cita, Engkau melihat kami smua tembus kedalam perasaan yang terdalam dan Kau menembus apa yang terjadi di hari esok, perbaikilah seindah indanya wahai Allah

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله

Ampuni Lidah kami yang lebih banyak menyebut nama selain Nama Mu, Ampunin hati kami yang lebih banyak mengingat selain Mu, Saat aku dan kalian di panggil menghadapnya, lalu Allah bertanya, “Hambaku kau lebih banyak mengingat selain daripada Ku..?.”
“Wahai manusia apa yang membuatmu jauh dari Tuhan mu Yang Maha Pemurah”

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله

Limpahi kerinduan kepadamu dihati kami, sehingga kami menjadi orang yang Kau Rindukan

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله

Salah satu kelompok yang akan di naungi Allah di hari Kiamat orang yang saat menyebut Nama Allah mengalir airmatanya, Orang yang menangis saat menyebut Nama Allah di naungi Nya, di lindungi Nya, di maafkan Nya, di sayangi Nya, Allah tidak sia siakan air mata yang mengalir saat menyebut Nama Nya

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Hadirin hadirat yang di muliakan Allah,
Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “barang siapa yang berpuasa di hari Arafah di hapuskan dosanya selama 2 tahun” di riwayat yang lain “di hapuskan dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang” . Hari arafah besok dan kita berdzikir tadi semua ibadah kita dikalikan 700 kali lipat.

Di hari kiamat ada orang orang yang masih cemberut di Surganya Allah,
Mereka saat itu ditanya oleh para malaikat :
“kenapa kalian cemberut padahal di sini tempat orang orang yang senang dan gembira, tidak ada kesedihan di sini “
Mereka berkata :
“kami masih belum di izinkan melihat keindahan Allah”
Maka saat itu malaikat berkata pada Allah :
“wahai Allah mereka masih belum melihat keindahan Dzat Mu”
maka Allah berkata “angkat tabir yang menghalangiku dengan mereka”
Maka berkatalah malaikat : “wahai Allah mata - mata mereka itu penuh dosa di dunia, tidak pantas melihat indahnya Dzat Mu” Maka Allah menjawab : “Angkat tabir yang menghalanginya , karena mata mereka pernah mengalirkan airmata rindu pd Ku, pantas mereka melihat keindahan Dzat Ku”

Rabbiy, jadikan kami semua melihat keindahan Dzat Mu, yang hadir dan yang menyaksikan acara ini melalui steaming Website www.majelisrasulullah.org dan di Radio Wadi FM atau lainnya semoga kita tidak ditutupi, tidak di hijab dari memandang keindah Dzat Nya Allah subhanahu wata'ala.

Hadirin hadirat kita ucapkan terimakasih kepada syekh fadhilatul ustad Da’i ilallah syek Fadhil dari Bandung, semoga di limpahi rahmat dan keberkahan Allah subhanahu wata'ala hingga hadir bersama kita pada malam ini semoga bukan menjadi kehadiran yang pertama tapi kehadiran yang berkisinambungan dan juga tadi saya sudah taru janji kepada beliau hutangsaya untuk datang kunjung ke Bandung, kerumah beliau Insya Allah, datang waktunya segera kita bisa kunjung keBandung, kita do’akan kunjungan beliau agar menjadi paku dan menjadi benteng Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di wilayahnya.

Jangan risau melihat saya di kursi roda, masalahnya yang akan saya sampaikan panjang, saya hanya kelelahan saja takut saya tidak terangkum apa yang saya sampaikan kalau saya menyampaikannya dengan berdiri, karna biasanya hanya 25 menit, tapi malam ini agak panjang.

Besok malam takbiran jangan lupa, yang mau hadir semoga di limpahi kemuliaan,
Lalu satu lagi, malam kamis, ada apa malam kamis?
Halal bi halal sekaligus Tabligh Akbar majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Masjid Universitas Borobudur , Jakarta Timur, bersama siaran langsung TV One jam 16:00 sampai jam 17:30.
Satu jam setengah, pembicaranya hanya Majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja, atau mungkin Ustad Bukhori hadir mungkin tidak, kalau tidak ya cukup satu pembicara.
Saya tanya sekarang kalian Siap Jihad untuk mensyi’arkan Dakwah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam???
kalau siap maka hadir, kalau ada udzur tetap kabarkan dengan cara menyebarkan kabar ini kepada teman teman kalian.
Bulan Dzulhijjah ini hadirin hadirat kita gemakan Takbir, dengan Takbir Akbar, dengan dzikir Akbar, hal itu sungguh menggembirakan hati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana ucapan kaum Anshor ra yang ingin selalu ikut dengan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, seraya berkata :
“wahai Rasul, kalau kau masuk kedalam lautan maka kamipun akan masuk kedasar lautan satu persatu mati kami tidak perduli, kami ingin tetap bersamamu, barang kali dengan matinya kami itu Allah tunjukan cara untuk menyenangkan hati mu Wahai Rasulullah”
Rasul saw menjawab :
“tanda tanda iman adalah cinta kaum anshor, tanda munafik adalah benci kaum Anshor", kenapa?
Kaum Anshor tidak punya kelebihan apa apa, kelebihannya cinta kepada Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.